Press "Enter" to skip to content

Kemacetan di Surabaya Saat Hujan: Mengapa Lalu Lintas Kota Bisa Langsung Lumpuh?

Surabaya, TheNurakNews.id — Hujan yang turun di Surabaya hampir selalu diikuti oleh pemandangan yang sama di berbagai ruas jalan utama: antrean kendaraan memanjang dan lalu lintas bergerak sangat lambat. Kemacetan di Surabaya saat hujan bukan sekadar gangguan sesaat, tetapi fenomena yang berulang dan berkaitan dengan kondisi struktural transportasi kota, mulai dari jumlah kendaraan yang sangat besar hingga gangguan infrastruktur ketika hujan turun.

Data pemerintah daerah menunjukkan bahwa tekanan terhadap sistem transportasi Surabaya terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Jumlah Kendaraan di Surabaya Sudah Melebihi Empat Juta Unit

Salah satu faktor paling mendasar yang menjelaskan kondisi lalu lintas kota adalah jumlah kendaraan bermotor yang sangat besar.

Data statistik provinsi menunjukkan bahwa jumlah kendaraan bermotor di Jawa Timur telah mencapai sekitar 24,5 juta unit pada 2024. Dari jumlah tersebut, sekitar 4.062.734 kendaraan tercatat berada di Surabaya, termasuk sepeda motor, mobil penumpang, kendaraan niaga, dan bus.

Dengan populasi sekitar tiga juta jiwa, rasio kendaraan terhadap penduduk di kota ini tergolong tinggi. Dalam kondisi lalu lintas yang sudah padat seperti ini, gangguan kecil seperti hujan dapat dengan cepat memicu kemacetan di berbagai ruas jalan utama.

Genangan Air Masih Terjadi di Sejumlah Ruas Jalan

Faktor lain yang sering memperparah kemacetan adalah munculnya genangan air di sejumlah ruas jalan ketika hujan turun.

Pemerintah Kota Surabaya dalam program pembangunan infrastruktur 2025 mencatat masih banyak titik yang membutuhkan peningkatan sistem drainase. Untuk mengurangi genangan, pemerintah kota membangun saluran drainase di 233 lokasi dengan total panjang sekitar 56 kilometer pada 2025.

Selain itu, pembangunan rumah pompa air baru juga dilakukan di beberapa kawasan seperti Dukuh Menanggal, Karah Agung, Ketintang Madya, Margorejo Indah, dan Gunung Anyar. Infrastruktur ini berfungsi mempercepat aliran air menuju laut ketika curah hujan meningkat.

Meski demikian, ketika hujan turun dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat, genangan air masih dapat muncul di beberapa ruas jalan. Ketika sebagian badan jalan tertutup air, kendaraan akan melambat dan kapasitas jalan otomatis menurun.

Dalam kajian transportasi perkotaan, kondisi ini dikenal sebagai capacity reduction, yaitu penurunan kapasitas jalan akibat gangguan fisik seperti genangan.

Pengendara Cenderung Mengurangi Kecepatan Kendaraan

Selain faktor infrastruktur, perilaku pengendara juga memengaruhi kondisi lalu lintas saat hujan.

Ketika hujan turun, pengendara biasanya menurunkan kecepatan kendaraan untuk menghindari kecelakaan. Permukaan jalan yang licin dan jarak pandang yang berkurang membuat pengemudi lebih berhati-hati.

Dalam studi keselamatan lalu lintas terdapat dua istilah penting yang sering digunakan untuk menjelaskan kondisi ini.

Pertama adalah reduced visibility, yaitu berkurangnya jarak pandang akibat hujan. Kedua adalah hydroplaning, yaitu kondisi ketika ban kendaraan kehilangan daya cengkeram karena melaju di atas lapisan air.

Penurunan kecepatan kendaraan memang meningkatkan keselamatan, tetapi secara bersamaan juga menurunkan kecepatan rata-rata lalu lintas kota. Ketika ribuan kendaraan bergerak lebih lambat dalam waktu yang sama, antrean kendaraan dapat terbentuk dengan cepat.

Persimpangan Jalan Menjadi Titik Kemacetan

Kemacetan saat hujan juga sering terjadi di kawasan persimpangan jalan.

Pada kondisi normal, lampu lalu lintas sudah mengatur arus kendaraan agar tidak saling bertabrakan. Namun ketika hujan turun, kendaraan biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk bergerak setelah lampu hijau menyala.

Dalam kajian transportasi perkotaan, kondisi ini dikenal sebagai intersection delay, yaitu keterlambatan arus kendaraan di titik persimpangan.

Jika fenomena ini terjadi di sejumlah simpang utama secara bersamaan, antrean kendaraan dapat memanjang hingga ratusan meter dan menjalar ke ruas jalan lain. Kondisi tersebut sering terlihat di sejumlah koridor lalu lintas utama Surabaya ketika hujan turun pada jam sibuk.

Surabaya Menjadi Pusat Mobilitas Kawasan Metropolitan

Faktor lain yang turut memengaruhi kondisi lalu lintas kota adalah mobilitas regional dari daerah sekitar Surabaya.

Sebagai pusat ekonomi di kawasan timur Indonesia, Surabaya menarik mobilitas dari kota penyangga seperti Sidoarjo dan Gresik. Banyak pekerja yang setiap hari melakukan perjalanan menuju Surabaya untuk bekerja atau beraktivitas.

Fenomena ini dikenal sebagai commuter traffic, yaitu mobilitas harian pekerja dari wilayah pinggiran menuju pusat kota.

Volume kendaraan yang masuk ke Surabaya setiap hari membuat lalu lintas kota menjadi sangat padat. Ketika hujan turun dan sebagian kapasitas jalan berkurang, sistem transportasi kota menjadi sangat sensitif terhadap gangguan kecil.

Akibatnya, kemacetan dapat dengan cepat meluas dari satu ruas jalan ke ruas jalan lainnya.

Penutup

Kemacetan di Surabaya saat hujan tidak terjadi secara kebetulan. Fenomena ini muncul dari kombinasi berbagai faktor, mulai dari jumlah kendaraan yang sangat besar, genangan air di sejumlah ruas jalan, perubahan perilaku pengendara, hingga mobilitas kendaraan dari kota-kota penyangga.

Memahami faktor-faktor tersebut penting agar publik dapat melihat persoalan lalu lintas kota bukan hanya sebagai gangguan harian, tetapi sebagai tantangan serius dalam pengelolaan transportasi perkotaan.

Redaksi The Nurak News akan terus memantau dinamika lalu lintas di Surabaya dan menghadirkan laporan berbasis data. Jika Anda memiliki informasi mengenai titik kemacetan atau genangan yang sering muncul saat hujan di kota ini, kirimkan laporan Anda kepada redaksi agar dapat menjadi bagian dari liputan berikutnya. ***

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *