Press "Enter" to skip to content

Menata Ulang Surabaya: Pelajaran Tata Kota dan Infrastruktur Era Kolonial

Ilustrasi berbasis AI yang menggambarkan lapisan tata kota dan infrastruktur Surabaya dari era kolonial hingga masa kini, termasuk kawasan Kalimas, gudang lama, dan jaringan rel awal

Surabaya, TheNurakNews.id — Wajah Surabaya modern yang hari ini tumbuh sebagai kota industri dan perdagangan tidak lahir secara tiba-tiba. Ia berdiri di atas fondasi panjang tata kota dan infrastruktur yang dirancang sejak era kolonial Belanda, sebuah warisan yang hingga kini masih membentuk arah pembangunan, sekaligus menyimpan persoalan yang belum sepenuhnya selesai.

Bagi The Nurak News, memahami tata kota Surabaya era Belanda bukan sekadar menengok masa lalu, melainkan membaca cetak biru awal sebuah kota yang terus bergerak di tengah tekanan urbanisasi, banjir, dan ketimpangan ruang.

Kota yang Dirancang untuk Fungsi, Bukan untuk Semua

Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, Surabaya berkembang sebagai kota kolonial modern dengan struktur yang jelas, namun kaku secara sosial. Pemerintah kolonial melalui Gemeente Soerabaia sejak 1906 merancang kota ini dengan pendekatan teknis yang matang, terutama untuk mendukung kepentingan perdagangan dan militer.

Konsep Benedenstad atau kota bawah di kawasan utara, khususnya sekitar Jembatan Merah, menjadi pusat ekonomi dan administrasi. Sementara itu, Bovenstad di selatan seperti Darmo dan Gubeng berkembang sebagai kawasan hunian elit yang lebih tertata.

Namun, di balik keteraturan tersebut, terdapat praktik Wijkenstelsel, yaitu sistem pemisahan wilayah berdasarkan etnis. Kawasan Eropa ditempatkan di pusat kota dengan infrastruktur terbaik, sementara komunitas Tionghoa, Arab, dan pribumi berada di wilayah terpisah dengan kualitas lingkungan yang berbeda.

Model ini menunjukkan bahwa sejak awal, tata kota Surabaya tidak hanya soal ruang fisik, tetapi juga tentang relasi kuasa.

Infrastruktur sebagai Tulang Punggung Perdagangan

Pembangunan infrastruktur pada masa itu dirancang dengan satu tujuan utama, yaitu memperlancar arus barang dari hinterland ke pelabuhan.

Sungai Kalimas difungsikan sebagai jalur distribusi utama, terhubung dengan gudang-gudang di sekitarnya. Jalur kereta api dibangun untuk menghubungkan Surabaya dengan wilayah pedalaman di Jawa Timur. Pelabuhan Tanjung Perak dikembangkan sebagai simpul perdagangan internasional.

Konektivitas darat dan air ini membentuk sistem logistik yang efisien. Bahkan hingga hari ini, pola tersebut masih menjadi dasar struktur ekonomi kota.

Selain transportasi, pemerintah kolonial juga membangun sistem drainase yang terintegrasi. Kanal-kanal tidak hanya berfungsi sebagai jalur air, tetapi juga sebagai pengendali banjir. Banyak dari sistem ini masih digunakan, meskipun menghadapi tekanan akibat perubahan tata guna lahan modern.

Arsitektur dan Adaptasi terhadap Iklim Tropis

Salah satu aspek yang sering luput dari perhatian adalah kemampuan adaptasi arsitektur kolonial terhadap lingkungan tropis. Bangunan dirancang dengan langit-langit tinggi, ventilasi silang, serta jendela besar untuk menjaga sirkulasi udara.

Kawasan seperti Kota Lama, termasuk Gedung Internatio, Siola, hingga Hotel Majapahit, menjadi contoh bagaimana desain arsitektur tidak hanya estetis, tetapi juga fungsional.

Di sisi lain, konsep garden city yang diperkenalkan pada awal abad ke-20 turut membentuk kawasan selatan Surabaya dengan ruang terbuka hijau yang lebih luas. Ini menjadi cikal bakal perencanaan kota yang mempertimbangkan kualitas hidup.

Fondasi yang Masih Bertahan, Masalah yang Belum Selesai

Banyak infrastruktur peninggalan kolonial yang masih bertahan hingga kini, mulai dari jaringan rel, sistem drainase, hingga pola jalan utama. Hal ini menunjukkan kualitas perencanaan dan konstruksi yang relatif tahan lama.

Namun, tidak semua warisan tersebut relevan dengan kebutuhan kota modern. Sistem zonasi yang dahulu kaku kini bertransformasi menjadi tantangan baru, seperti ketimpangan wilayah dan kepadatan di kawasan tertentu.

Masalah banjir yang masih terjadi di Surabaya juga tidak bisa dilepaskan dari perubahan sistem tata air yang awalnya dirancang terintegrasi, namun kemudian terganggu oleh pembangunan yang tidak selalu sejalan dengan rencana awal.

Membaca Ulang Sejarah sebagai Strategi Masa Depan

Sejumlah akademisi seperti Purnawan Basundoro dan Handinoto menekankan pentingnya membaca sejarah tata kota Surabaya sebagai dasar evaluasi kebijakan saat ini. Arsip-arsip lama, peta kolonial, hingga dokumen di lembaga seperti ANRI dan KITLV menjadi sumber penting untuk memahami evolusi kota.

Penelusuran fisik di kawasan Kota Lama hingga Darmo juga menunjukkan bahwa Surabaya masih menyimpan ”jejak hidup” dari masa lalu, bukan sekadar artefak mati.

Dalam konteks ini, sejarah bukan nostalgia, melainkan alat analisis.

Menuju Tata Kota yang Lebih Adil dan Berkelanjutan

Pelajaran dari era kolonial menunjukkan bahwa perencanaan jangka panjang, integrasi infrastruktur, dan efisiensi fungsi adalah kunci keberhasilan sebuah kota. Namun, Surabaya modern juga dihadapkan pada tugas yang lebih kompleks, yaitu memastikan bahwa pembangunan tidak lagi eksklusif seperti masa lalu.

Kota tidak hanya perlu tertata, tetapi juga inklusif.

Di sinilah relevansi membaca ulang konsep-konsep lama seperti kanal, zonasi, dan konektivitas, bukan untuk ditiru secara mentah, tetapi untuk diadaptasi dengan kebutuhan zaman.

Sebagai bagian dari upaya menghadirkan ”konteks untuk publik”, The Nurak News memandang bahwa pemahaman sejarah tata kota bukan hanya milik akademisi atau pemerintah, melainkan juga warga kota.

Apakah Surabaya akan terus dibentuk oleh warisan masa lalu, atau mampu menafsirkannya ulang untuk masa depan yang lebih adil? Pertanyaan ini terbuka, dan jawabannya akan ditentukan oleh arah kebijakan serta partisipasi publik ke depan. ***

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *