TheNurakNews.id, 14 Maret 2026, 18.27 WIB
Surabaya, TheNurakNews.id — Sampah kota sering dianggap sebagai masalah yang tidak pernah selesai. Namun di Surabaya, timbunan sampah justru mulai diperlakukan sebagai sumber energi dan peluang ekonomi baru. Dengan produksi sampah yang telah mencapai sekitar 1.800 ton per hari, pemerintah kota dan berbagai komunitas lingkungan mulai mendorong perubahan besar dalam cara memandang limbah perkotaan.
Sebagian besar kota di Indonesia masih berfokus pada pembuangan sampah ke tempat pembuangan akhir. Surabaya mencoba melangkah lebih jauh. Melalui pendekatan ekonomi hijau berbasis sampah, limbah organik dan anorganik diolah menjadi bahan bakar alternatif, energi listrik, serta produk turunan yang memiliki nilai ekonomi.
Data terbaru menunjukkan bahwa dari total produksi sampah harian sekitar 1.800 ton, masih terdapat sekitar 800 ton sampah yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah tetap menjadi tantangan besar. Namun pada saat yang sama, angka tersebut juga menunjukkan potensi sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali melalui teknologi pengolahan modern.
Salah satu contoh nyata dari transformasi tersebut adalah Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) Benowo. Fasilitas ini telah beroperasi dengan kapasitas sekitar 11 megawatt listrik dan memanfaatkan ratusan ton sampah setiap hari untuk menghasilkan energi. Teknologi ini menjadi salah satu bentuk implementasi waste to energy di Indonesia yang mengubah residu sampah menjadi listrik yang dapat digunakan oleh masyarakat.
Namun pengolahan sampah di Surabaya tidak berhenti pada pembangkit listrik. Kota ini juga mulai mengembangkan bahan bakar alternatif dari sampah organik, terutama dalam bentuk briket atau Refuse Derived Fuel (RDF). Inovasi ini memanfaatkan bahan yang sebelumnya dianggap tidak bernilai, seperti daun kering, tempurung kelapa, serbuk gergaji, hingga limbah pertanian.
Penelitian menunjukkan bahwa briket dari limbah organik memiliki nilai kalor tinggi. Briket dari daun kering dapat menghasilkan sekitar 5.208 kalori per gram, sementara campuran sampah organik lainnya dapat mencapai 4.300 hingga 6.200 kilokalori per kilogram. Nilai energi tersebut membuat briket sampah memiliki potensi sebagai pengganti sebagian bahan bakar fosil dalam berbagai aktivitas industri maupun kebutuhan rumah tangga.
Selain menghasilkan energi, pemanfaatan sampah sebagai bahan bakar juga membawa dampak lingkungan yang penting. Pengolahan ini mampu mengurangi timbunan sampah di tempat pembuangan akhir, menekan emisi gas rumah kaca, dan mengurangi ketergantungan pada batu bara maupun bahan bakar fosil lainnya. Dalam konteks perubahan iklim dan krisis lingkungan global, pendekatan ini semakin relevan bagi kota-kota besar.
Proses produksi briket sampah relatif sederhana tetapi membutuhkan sistem pengelolaan yang baik. Limbah organik dikeringkan terlebih dahulu, kemudian melalui proses karbonisasi atau pirolisis untuk menghasilkan arang. Setelah itu bahan dicampur dengan perekat alami seperti tepung tapioka dan dicetak menjadi briket padat yang siap digunakan sebagai bahan bakar.
Di Surabaya, pengolahan sampah organik juga didukung oleh jaringan rumah kompos yang tersebar di berbagai wilayah kota. Saat ini terdapat sekitar 27 rumah kompos dengan kapasitas pengolahan sekitar 95 ton sampah organik per hari. Selain mengurangi beban tempat pembuangan akhir, fasilitas ini juga menjadi sumber bahan baku untuk berbagai inovasi pengolahan sampah berbasis komunitas.
Model pengelolaan ini semakin kuat karena melibatkan masyarakat secara langsung. Program bank sampah dan kader lingkungan di tingkat RT dan RW menjadi bagian penting dari sistem ekonomi sirkular yang mulai berkembang di Surabaya. Warga tidak hanya membuang sampah, tetapi juga memilah dan memanfaatkannya kembali sebagai sumber daya ekonomi.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak lagi sekadar urusan kebersihan kota. Sampah mulai dilihat sebagai bagian dari ekonomi hijau yang dapat menciptakan lapangan usaha baru, terutama pada sektor pengolahan energi alternatif, produk daur ulang, dan industri bahan bakar ramah lingkungan.
Bagi Surabaya, langkah ini menjadi penting karena tekanan timbulan sampah akan terus meningkat seiring pertumbuhan kota. Dengan mengubah sampah menjadi energi listrik, briket, dan berbagai produk turunan lainnya, kota ini berusaha membangun sistem pengelolaan yang lebih berkelanjutan sekaligus bernilai ekonomi.
Melalui laporan ini, The Nurak News melihat bahwa transformasi pengelolaan sampah di Surabaya bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang perubahan cara pandang masyarakat terhadap limbah. Jika model ekonomi hijau ini terus diperluas dan diperkuat, Surabaya berpotensi menjadi salah satu contoh kota di Indonesia yang berhasil mengubah sampah dari beban lingkungan menjadi sumber energi dan peluang ekonomi baru.
Karena itu, publik perlu terus mengikuti perkembangan kebijakan dan inovasi pengelolaan sampah di kota-kota besar, sebab masa depan lingkungan perkotaan sangat bergantung pada kemampuan kita mengelola limbah secara cerdas dan berkelanjutan. ***






Be First to Comment