TheNurakNews.id, 7 Maret 2026, 19.45 WIB
Surabaya, TheNurakNews.id — Tidak semua perjalanan dimulai dengan peta yang jelas, sebagian justru berawal dari keberanian sederhana untuk melarikan diri demi mengejar mimpi. Inilah yang menjadi titik awal kisah Zak, tokoh utama dalam film The Peanut Butter Falcon (2019), sebuah drama perjalanan (road movie atau film perjalanan) yang menggabungkan humor, kehangatan persahabatan, dan pencarian jati diri.
Film independen Amerika Serikat yang disutradarai oleh Tyler Nilson dan Michael Schwartz ini pertama kali diputar di festival film South by Southwest (SXSW) pada 2019 sebelum kemudian dirilis secara luas di bioskop. Menghadirkan Zack Gottsagen, Shia LaBeouf, dan Dakota Johnson, film ini memperoleh sambutan positif dari kritikus serta penonton, dengan rating di atas tujuh pada basis data film internasional IMDb. Melalui pendekatan yang sederhana namun emosional, film ini menghadirkan kisah tentang mimpi, kebebasan, dan arti keluarga yang tidak selalu lahir dari hubungan darah.
Cerita berpusat pada Zak, seorang pemuda dengan sindrom Down (Down syndrome), kondisi genetik yang memengaruhi perkembangan kognitif dan fisik seseorang. Ia tinggal di sebuah panti jompo di negara bagian North Carolina, Amerika Serikat, karena negara bagian tersebut tidak memiliki fasilitas khusus bagi penyandang disabilitas seperti dirinya. Kehidupan Zak di tempat itu terasa membatasi; ia tidak memiliki ruang untuk mengejar impian yang selama ini ia simpan.
Impian itu sederhana namun penuh makna: menjadi pegulat profesional seperti idolanya dalam dunia professional wrestling (gulat profesional), seorang legenda bernama The Salt Water Redneck. Bagi Zak, menonton kaset video latihan gulat yang menampilkan idolanya bukan sekadar hiburan, tetapi juga peta menuju masa depan yang ia bayangkan.
Dorongan untuk mengejar mimpi tersebut membuat Zak akhirnya melarikan diri dari panti jompo. Dengan hanya mengenakan pakaian dalam dan sebuah rencana yang belum sepenuhnya matang, ia memulai perjalanan menyusuri wilayah pesisir Amerika Serikat. Perjalanan inilah yang kemudian mempertemukannya dengan Tyler, seorang nelayan muda yang sedang melarikan diri dari masalahnya sendiri.
Tyler, yang diperankan oleh Shia LaBeouf, digambarkan sebagai pria yang hidup di pinggiran masyarakat. Ia tengah berkonflik dengan beberapa nelayan lokal setelah membakar peralatan mereka sebagai bentuk balas dendam. Dalam situasi tersebut, Tyler memilih melarikan diri menggunakan perahu kecil, tanpa menyadari bahwa takdir mempertemukannya dengan Zak.
Pertemuan dua tokoh yang sama-sama berada dalam pelarian ini menjadi inti emosional film. Pada awalnya Tyler enggan terlibat lebih jauh dengan Zak, tetapi perlahan hubungan mereka berkembang menjadi persahabatan yang tidak terduga. Tyler kemudian memutuskan membantu Zak menuju tempat pelatihan gulat yang ia yakini dapat membawanya lebih dekat dengan idolanya.
Perjalanan mereka menyusuri sungai, hutan, dan desa-desa kecil menghadirkan berbagai peristiwa yang membentuk hubungan keduanya. Tyler tidak hanya menjadi teman perjalanan, tetapi juga mentor sekaligus pelatih tidak resmi bagi Zak. Ia mengajarinya berbagai gerakan gulat dasar, membangun kepercayaan dirinya, dan menanamkan keyakinan bahwa mimpi tersebut layak diperjuangkan.
Sementara itu, Eleanor, seorang pekerja sosial yang diperankan Dakota Johnson, menyadari bahwa Zak telah melarikan diri dari panti jompo. Ia kemudian berusaha menemukan Zak untuk membawanya kembali. Namun pencarian tersebut perlahan berubah menjadi perjalanan emosional ketika Eleanor mulai memahami bahwa yang dicari Zak bukan sekadar kebebasan, melainkan kesempatan untuk menentukan hidupnya sendiri.
Ketika jalur perjalanan Zak, Tyler, dan Eleanor akhirnya bertemu, film ini memasuki tahap yang lebih reflektif. Ketiganya membentuk hubungan yang menyerupai keluarga kecil yang tidak direncanakan. Di titik inilah The Peanut Butter Falcon menampilkan salah satu tema utamanya: keluarga dapat terbentuk dari kepercayaan dan solidaritas, bukan semata-mata dari hubungan biologis.
Secara naratif, film ini memanfaatkan struktur klasik coming-of-age story (kisah pendewasaan), meskipun tokoh utamanya bukan remaja dalam pengertian konvensional. Perjalanan Zak untuk menemukan idolanya sekaligus menjadi perjalanan untuk menemukan dirinya sendiri, dibantu oleh dua orang yang juga sedang mencari arah hidup mereka.
Bagi pembaca The Nurak News, kisah dalam film ini tidak hanya menarik sebagai hiburan, tetapi juga membuka ruang refleksi tentang inklusi sosial, persahabatan lintas latar belakang, dan keberanian mengejar mimpi. Melalui perjalanan sederhana di wilayah pedesaan Amerika, film ini memperlihatkan bahwa harapan sering kali muncul dari tempat yang paling tidak terduga.
Bagaimana kualitas akting para pemeran utama, kekuatan emosional cerita, serta kritik terhadap alur film ini? Pembahasan tersebut dapat dibaca dalam tulisan berikutnya di The Nurak News berjudul Resensi Film “The Peanut Butter Falcon”: Persahabatan, Mimpi, dan Perjalanan yang Menghangatkan. ***






Be First to Comment