TheNurakNews.id, 29 April 2026, 04.53 WIB
Surabaya, TheNurakNews.id — Ramai orderan tak lagi identik dengan dompet tebal. Di jalan-jalan padat Surabaya, dari Bundaran Waru hingga jalur protokol Wonokromo, banyak pengemudi ojek online justru menghadapi paradoks baru: bekerja lebih lama, tetapi membawa pulang lebih sedikit. Di tengah lonjakan permintaan, pendapatan bersih justru tergerus. Fenomena ini menguatkan satu istilah yang kian sering terdengar di kalangan pengemudi: digital sweatshop (kerja rodi digital).
Di balik layar aplikasi, terjadi pergeseran mendasar pada 2026. Platform tidak lagi semata mengejar pertumbuhan jumlah transaksi, tetapi berfokus pada efisiensi dan optimalisasi biaya. Dampaknya langsung terasa pada struktur komisi dan algoritma distribusi order. Secara formal, potongan disebut berkisar 20 persen. Namun di lapangan, berbagai biaya tambahan membuat potongan riil dapat melampaui 35 hingga 45 persen, bahkan dalam kasus tertentu mendekati separuh tarif yang dibayar penumpang.
Akibatnya, ”orderan ramai” menjadi semu. Seorang driver bisa menyelesaikan lebih banyak perjalanan, tetapi nilai per perjalanan lebih rendah karena tarif hemat dan potongan berlapis. Dalam simulasi rata-rata 2026, pendapatan kotor harian Rp75.000 hingga Rp100.000 kerap menyusut menjadi Rp50.000 hingga Rp60.000 setelah biaya bensin, makan, dan potongan aplikasi. Margin tipis ini bahkan berada di ambang titik impas (break-even point), yang diperkirakan di kisaran Rp75.000 per hari.
Program Hemat dan ”Pemaksaan Halus”
Salah satu sumber keluhan terbesar adalah skema layanan tarif murah atau ”program hemat”. Bagi penumpang, fitur ini menghadirkan ongkos lebih rendah. Namun bagi driver, program ini sering dianggap sebagai bentuk hidden exploitation (eksploitasi tersembunyi).
Selain potongan komisi, driver kerap dibebani biaya tambahan per perjalanan atau sistem berlangganan agar tetap mendapat prioritas order. Secara teknis program ini bersifat opsional, tetapi banyak pengemudi mengaku mengalami ”pemaksaan halus”. Tanpa ikut program, mereka berisiko mendapat lebih sedikit order atau harus menempuh jarak penjemputan yang jauh.
Konsekuensinya jelas: jam kerja memanjang. Banyak driver harus bekerja 12 hingga 16 jam sehari untuk mencapai pendapatan yang setara dengan standar minimum regional. Dalam kondisi ini, fleksibilitas yang dulu menjadi daya tarik berubah menjadi ilusi.
Status ”Mitra” yang Menggantung
Akar persoalan tidak berhenti pada tarif dan algoritma. Status hukum sebagai ”mitra” menjadi titik krusial yang membuat driver berada di wilayah abu-abu. Mereka bukan karyawan, sehingga tidak berhak atas upah minimum, jaminan sosial penuh, atau tunjangan hari raya dalam skema wajib.
Pemerintah hingga April 2026 masih menghadapi kebuntuan dalam merumuskan regulasi mengikat. Bonus Hari Raya (BHR) yang diimbau melalui surat edaran hanya bersifat tidak wajib. Tanpa sanksi tegas, implementasinya bergantung pada kebijakan masing-masing aplikator.
Di sisi lain, pemerintah juga menghadapi dilema. Mengubah status driver menjadi pekerja formal berpotensi mengguncang model bisnis platform, yang selama ini bertumpu pada fleksibilitas dan biaya operasional rendah. Jika regulasi terlalu ketat, ada kekhawatiran jumlah driver akan dikurangi atau tarif dinaikkan, yang dapat berdampak pada konsumen.
Surabaya: Antara Oversupply dan ”Anyep”
Di Surabaya, tekanan tersebut terlihat nyata. Area yang dulu menjadi ladang order seperti kawasan CITO, Ahmad Yani, hingga pusat kota kini justru dipenuhi driver yang menunggu tanpa kepastian. Fenomena oversupply atau kelebihan jumlah pengemudi membuat waktu tunggu semakin panjang.
Ironisnya, jam sibuk yang dulu menjadi primadona kini justru dihindari. Pada pukul 16.00 hingga 18.00 WIB, kemacetan dan tingginya risiko pembatalan membuat banyak driver memilih mematikan aplikasi. Situasi serupa terjadi pada jam berangkat kerja pagi.
Istilah ”gacor” yang dulu menggambarkan derasnya order kini kehilangan makna. Banyak driver beralih ke layanan pengantaran makanan atau barang sebagai strategi bertahan.
Siapa yang Diuntungkan?
Dalam struktur ini, pihak yang paling diuntungkan tetaplah platform digital. Dengan volume transaksi tinggi dan minim risiko operasional, aplikator memperoleh keuntungan dari potongan komisi dan biaya layanan.
Konsumen juga menikmati tarif murah. Namun di ujung rantai, driver berada pada posisi paling rentan. Mereka menanggung seluruh biaya operasional, dari bensin hingga perawatan kendaraan, tanpa jaminan pendapatan stabil.
Pemerintah sendiri berada di posisi ambivalen. Di satu sisi, ekosistem digital ini menyerap jutaan tenaga kerja dan menjaga aktivitas ekonomi. Di sisi lain, tekanan untuk menghadirkan regulasi yang adil semakin kuat.
Bertahan dalam Keterpaksaan
Meski kondisi kian berat, sebagian besar driver tetap bertahan. Faktor utamanya sederhana: tidak ada pilihan lain. Keterbatasan lapangan kerja, kebutuhan harian, dan beban utang membuat banyak pengemudi terjebak dalam pola ”hari ini bekerja untuk hari ini”.
Fleksibilitas yang tersisa hanya pada permukaan. Dalam praktiknya, algoritma dan target performa memaksa mereka tetap berada di jalan selama belasan jam.
Jalan Keluar: Regulasi atau Stagnasi
Sejumlah kalangan menilai 2026 sebagai momentum krusial. Rancangan Undang-Undang (RUU) Pekerja Gig yang masuk Prolegnas menjadi harapan untuk mengakhiri status kemitraan semu. Regulasi ini diharapkan dapat menghadirkan pengakuan sebagai ”pekerja platform”, dengan hak atas upah layak, jaminan sosial, serta perlindungan dari suspend sepihak.
Tanpa perubahan struktural, kebijakan seperti BHR dinilai hanya bersifat kosmetik. Masalah utama tetap tidak tersentuh: potongan tinggi, tarif rendah, dan ketimpangan relasi kerja.
Di tengah situasi ini, satu pertanyaan mengemuka: apakah ekosistem digital akan terus bertumpu pada efisiensi yang menekan pekerja, atau bertransformasi menuju model yang lebih adil?
The Nurak News mencatat, masa depan jutaan driver ojol tidak hanya bergantung pada algoritma, tetapi pada keberanian negara menetapkan batas. Tanpa itu, jalan panjang para pengemudi akan tetap berujung pada satu hal: bekerja lebih keras untuk hasil yang semakin tipis. ***






Be First to Comment