Press "Enter" to skip to content

Atap Kota yang Terlupakan: Belajar dari Rotterdam, Menguji Masa Depan Surabaya

Tampilan situs resmi Rotterdamse Dakendagen menampilkan jadwal Rooftop Days 2026 (30 Mei–7 Juni), yang menjadi referensi utama pengembangan konsep atap kota berkelanjutan di Rotterdam dan relevansinya bagi transformasi tata kota Surabaya. Sumber: rotterdamsedakendagen.nl (akses 2026)

Surabaya, TheNurakNews.id — Di tengah panas kota dan genangan yang tak kunjung tuntas, ada satu ruang yang selama ini luput dari perhatian publik: atap. Bukan jalan, bukan taman, melainkan lapisan kota yang selama ini diam di atas kepala. Di Rotterdam, ruang itu justru dihidupkan, bahkan dirayakan melalui festival tahunan Rotterdamse Dakendagen. Pertanyaannya, apakah Surabaya siap mengikuti jejak tersebut, atau justru kembali terjebak dalam pola lama pembangunan horizontal?

Festival yang secara harfiah berarti “Hari Atap Rotterdam” ini bukan sekadar agenda wisata kota. Sejak digagas pada 2014 oleh Léon van Geest dan Joep Klabbers, acara ini berkembang menjadi platform serius yang mengubah cara pandang terhadap ruang urban. Atap tidak lagi dianggap sebagai batas bangunan, melainkan sebagai “lapisan kedua kota” atau second layer of the city (lapisan kedua kota).

Dalam edisi 2026 yang berlangsung 30 Mei hingga 7 Juni, festival ini kembali membuka puluhan atap di pusat kota Rotterdam, termasuk kawasan Hofplein dan Stationsplein. Pengunjung tidak hanya diajak menikmati panorama kota, tetapi juga menyusuri konektivitas antar-atap melalui konsep Walk the Block (jalur penghubung atap), sebuah infrastruktur eksperimental yang memperlihatkan bagaimana kota dapat tumbuh secara vertikal tanpa kehilangan fungsi sosialnya.

Namun, di balik estetika dan inovasi tersebut, terdapat agenda yang jauh lebih serius: adaptasi terhadap krisis iklim.

Atap sebagai Infrastruktur, Bukan Sekadar Arsitektur

Rotterdam bukan kota biasa. Sebagian wilayahnya berada di bawah permukaan laut, menjadikannya laboratorium global untuk manajemen air. Dalam konteks ini, konsep blue roof (atap biru) dan green roof (atap hijau) bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan.

Atap biru dirancang untuk menahan air hujan sementara, mengurangi beban drainase saat curah tinggi. Sementara atap hijau berfungsi menyerap air sekaligus menurunkan suhu bangunan. Studi menunjukkan bahwa pendekatan ini mampu mengurangi efek urban heat island (pulau panas perkotaan) secara signifikan.

Di sinilah letak relevansinya bagi Surabaya. Kota ini menghadapi dua tekanan sekaligus: banjir musiman dan suhu tinggi yang terus meningkat. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah kota memang mulai mendorong konsep Bangunan Gedung Hijau (BGH) serta proyek dekarbonisasi melalui program Sustainable Energy Transition in Indonesia (SETI). Namun implementasi di lapangan masih terfragmentasi.

Surabaya 2026: Antara Ambisi dan Keterbatasan

Sebagai kota metropolitan dengan pertumbuhan pesat, Surabaya menghadapi keterbatasan lahan terbuka. Ruang hijau kian terdesak oleh pembangunan vertikal. Dalam situasi ini, pemanfaatan atap menjadi solusi logis, sekaligus strategis.

Konsep yang diusung Rotterdam menawarkan beberapa kemungkinan konkret:

  • Atap sebagai taman kota alternatif;
  • Atap sebagai ruang sosial komunitas;
  • Atap sebagai lokasi urban farming (pertanian perkotaan);
  • Atap sebagai sumber energi melalui PLTS (pembangkit listrik tenaga surya).

Namun realitas di Surabaya menunjukkan tantangan berbeda. Regulasi belum sepenuhnya adaptif, insentif ekonomi masih terbatas, dan kesadaran publik terhadap fungsi atap masih rendah.

Alih-alih menjadi ruang publik baru, sebagian besar atap di Surabaya masih berfungsi pasif, bahkan terbengkalai.

Dilema Tata Kota: Inovasi atau Formalitas?

Di satu sisi, Surabaya memiliki ambisi menjadi kota hijau dan berkelanjutan. Di sisi lain, banyak program masih berhenti pada level kebijakan tanpa transformasi ruang yang nyata. Di sinilah dilema strategis muncul.

Apakah konsep rooftop akan benar-benar diintegrasikan dalam perencanaan kota, atau hanya menjadi jargon dalam dokumen perencanaan?

Pengalaman Rotterdam menunjukkan bahwa keberhasilan tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada partisipasi publik. Festival seperti Rotterdamse Dakendagen menjadi medium edukasi yang efektif. Warga diajak melihat, merasakan, dan memahami potensi ruang yang selama ini tersembunyi.

Pendekatan ini sejalan dengan semangat Konteks untuk Publik yang diusung The Nurak News. Informasi tidak berhenti pada data, tetapi harus membuka perspektif baru bagi masyarakat.

Dari Inspirasi ke Implementasi

Bagi Surabaya, mengadopsi konsep ini bukan berarti menyalin secara mentah. Adaptasi lokal menjadi kunci. Misalnya:

  • Integrasi rooftop dalam revisi RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah);
  • Insentif pajak untuk bangunan dengan atap hijau;
  • Kolaborasi dengan komunitas dan sektor swasta;
  • Pengembangan proyek percontohan di kawasan padat.

Lebih jauh lagi, konsep ini dapat membuka peluang ekonomi baru, dari kafe rooftop hingga pertanian kota berbasis komunitas.

Di tingkat nasional, kerja sama Indonesia-Belanda dalam pengelolaan air dan tata kota sebenarnya sudah berlangsung lama. Momentum ini dapat diperluas ke sektor desain atap sebagai bagian dari strategi adaptasi iklim.

Mengubah Cara Pandang Kota

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukan pada teknologi atau anggaran, melainkan pada cara pandang. Apakah kita masih melihat kota sebagai ruang dua dimensi, atau mulai memahami potensi vertikalnya?

Rotterdam telah menunjukkan bahwa atap dapat menjadi ruang hidup baru. Surabaya memiliki semua prasyarat untuk mengikuti, mulai dari kebutuhan hingga momentum kebijakan.

Yang belum sepenuhnya hadir adalah keberanian untuk mengubah paradigma.

Jika kota terus tumbuh tanpa memanfaatkan ruang yang sudah ada, maka krisis ruang hanya akan semakin dalam.

Sebaliknya, jika atap diaktifkan sebagai ruang publik dan infrastruktur, maka kota dapat berkembang tanpa harus mengorbankan kualitas hidup warganya.

The Nurak News mengajak pembaca untuk melihat kota dari sudut yang berbeda, bukan hanya dari jalan yang kita pijak, tetapi juga dari atap yang selama ini kita abaikan. Sebab masa depan kota mungkin tidak lagi berada di depan, melainkan di atas. ***

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *