TheNurakNews.id, 14 April 2026, 06.15 WIB
Rotterdam, TheNurakNews.id — Di kota yang sekitar 80 persen wilayahnya berada di bawah permukaan laut, ancaman banjir bukan sekadar kemungkinan, melainkan kepastian yang terus mengintai. Namun alih-alih melawan, Rotterdam memilih pendekatan yang lebih radikal: hidup bersama air.
Di sinilah dilema itu dimulai: ketika banyak kota masih sibuk membangun tanggul untuk menahan air, Rotterdam justru merancang ruang publik untuk menampungnya.
Pilihan ini bukan tanpa risiko, tetapi justru menjadi fondasi kota modern yang kini dianggap sebagai salah satu model tata kota paling adaptif di dunia.
Kota yang Dibangun Ulang, Bukan Sekadar Dipulihkan
Hancur akibat pengeboman dalam Perang Dunia II pada 1940, Rotterdam tidak memilih untuk menghidupkan kembali masa lalu. Kota ini justru melakukan apa yang jarang dilakukan kota lain: merancang ulang dirinya dari nol.
Konsep modernist planning (perencanaan modernis) diterapkan secara menyeluruh. Jalan diperlebar, zonasi diperjelas, dan ruang publik diperbanyak. Lahirnya Lijnbaan, kawasan belanja pejalan kaki pertama di Eropa pada 1953, menjadi simbol perubahan arah kota yang menempatkan manusia sebagai pusat.
Kini, wajah kota ditandai oleh arsitektur eksperimental seperti Kubuswoningen karya Piet Blom hingga Erasmusbrug rancangan Ben van Berkel. Rotterdam menjelma menjadi ”laboratorium terbuka” bagi arsitektur dan perencanaan kota.
Infrastruktur Air: Dari Ancaman Menjadi Sistem
Pendekatan Rotterdam terhadap air berkembang dari sekadar pertahanan menjadi sistem adaptasi. Konsep water-sensitive city atau kota peka air diwujudkan melalui berbagai inovasi.
Salah satu yang paling menonjol adalah water squares atau plaza air seperti Benthemplein. Dalam kondisi normal, ruang ini berfungsi sebagai taman atau lapangan olahraga. Saat hujan deras, ia berubah menjadi kolam retensi yang menampung limpasan air.
Selain itu, kota ini mengembangkan green roofs atau atap hijau dan blue roofs yang mampu menyimpan air hujan sekaligus mengurangi suhu perkotaan. Bahkan, konsep polder roofs memungkinkan pengaturan pelepasan air secara otomatis.
Data pemerintah kota menunjukkan bahwa pendekatan ini tidak hanya mengurangi risiko banjir, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup warga melalui ruang publik yang multifungsi.
Pelabuhan dan Teknologi: Mesin Ekonomi yang Bertransformasi
Sebagai pelabuhan terbesar di Eropa, Port of Rotterdam menjadi tulang punggung ekonomi kota. Sekitar 8 persen arus kargo Eropa melewati pelabuhan ini.
Namun, tantangan baru muncul. Di tengah tekanan dekarbonisasi global, Rotterdam kini mendorong transformasi pelabuhan menuju energi hijau, termasuk pengembangan hidrogen dan elektrifikasi logistik.
Teknologi digital twin atau kembaran digital juga diterapkan untuk mensimulasikan kondisi kota secara real-time. Sistem ini memungkinkan pengambilan keputusan berbasis data, mulai dari manajemen lalu lintas hingga pengendalian banjir.
Kota untuk Manusia, Bukan Sekadar Infrastruktur
Mantan Wali Kota Rotterdam, Ahmed Aboutaleb, dalam berbagai forum internasional semasa jabatannya menegaskan bahwa pembangunan kota tidak boleh hanya berfokus pada fisik.
Pendekatan people-centered development atau pembangunan berpusat pada manusia menjadi prinsip utama. Ruang publik didesain inklusif, mobilitas ramah pejalan kaki dan pesepeda diperkuat, serta kualitas hidup dijadikan indikator keberhasilan.
Sejak Oktober 2024, kepemimpinan kota dilanjutkan oleh Carola Schouten, yang menjaga kesinambungan agenda pembangunan berkelanjutan dan inklusif.
Namun di balik itu, tantangan tetap ada. Gentrifikasi di beberapa kawasan, ketimpangan sosial, serta tekanan ekonomi akibat transisi energi menjadi isu yang tidak bisa diabaikan.
Dilema Kota Pesisir: Antara Adaptasi dan Ketergantungan
Keberhasilan Rotterdam sering dijadikan referensi global, termasuk bagi kota-kota pesisir seperti Jakarta. Kerja sama bilateral dalam manajemen air menunjukkan bahwa model ini tidak berdiri sendiri, melainkan terus diuji dalam konteks berbeda.
Namun pertanyaan krusial muncul: apakah semua kota mampu meniru Rotterdam?
Pendekatan ini membutuhkan investasi besar, tata kelola yang kuat, serta konsistensi kebijakan jangka panjang. Tanpa itu, konsep seperti floating structures atau bangunan terapung dan integrasi infrastruktur multifungsi bisa menjadi proyek mahal tanpa dampak nyata.
Di sinilah letak kompleksitasnya. Rotterdam bukan hanya soal teknologi atau desain, tetapi tentang keberanian mengambil keputusan yang tidak populer dan bertahan dalam jangka panjang.
Pelajaran untuk Indonesia
Bagi Indonesia, terutama kota-kota pesisir seperti Surabaya dan Jakarta, pelajaran dari Rotterdam bukan sekadar meniru bentuk fisik.
Yang lebih penting adalah perubahan paradigma: dari melawan alam menjadi beradaptasi dengannya.
The Nurak News mencatat bahwa banyak proyek infrastruktur di Indonesia masih berfokus pada solusi jangka pendek. Padahal, perubahan iklim menuntut pendekatan sistemik yang menggabungkan teknologi, tata ruang, dan partisipasi publik.
Menuju Kota Masa Depan
Rotterdam menargetkan menjadi kota yang sepenuhnya tangguh terhadap perubahan iklim dalam dekade ini. Dengan kombinasi inovasi, keberanian, dan konsistensi, kota ini terus berevolusi.
Namun satu hal yang pasti: tidak ada solusi tunggal.
Rotterdam menunjukkan bahwa masa depan kota bukan tentang kesempurnaan, melainkan kemampuan beradaptasi.
Pertanyaannya kini bukan apakah kota lain bisa menjadi Rotterdam, tetapi apakah mereka siap menghadapi pilihan sulit yang sama. ***







Be First to Comment